Perkembangan Agroindustri di Madura PascaSuramadu

Seiring dengan dibukanya akses Jembatan Suramadu, pemerintah berencana membuka kawasan sekitar jalan masuk Suramadu, terutama sisi Madura, sebagai sentra agroindustri. Keinginan itu menarik direspons mengingat berlimpahnya potensi agraria di Madura.Problemnya, potensi tersebut kurang didukung keandalan sumber daya manusia dan minimnya manajemen pengolahan (industri). Kedepan, bukan sekitar Suramadu saja, melainkan seluruh Madura dan kawasan kepulauan kecil yang mengitarinya juga perlu digarap.

Selama ini, potensi pertanian di Madura masih tergarap secara tradisional dan parsial. Masyarakat bergerak acak dan mandiri, baik inisiatif, inovasi, maupun pembiayaan. Insentif pinjaman dana dan bimbingan teknis yang diharapkan datang dari pengelola kebijakan masih sangat kurang. Keterlibatan pemerintah diharapkan menjadi pemersatu semua komponen lokal di Madura.Paling tidak, pemerintah bisa menjadi penggerak de­nyut industri pertanian di sana. Jika selama ini mengandalkan pertanian tembakau, sudah saatnya petani Madura melirik sektor lain. Sebab, dari tahun ke tahun, pemerintah memberlakukan program pembatasan kuota areal tanam tembakau.Pembatasan itu tidak hanya dipicu derasnya desakan dunia terhadap pengurangan dampak tembakau, melainkan juga dilandasi hasil riset yang menyatakan bahwa kualitas tembakau Madura dari waktu ke waktu menurun. Hasil penelitian tersebut kemudian menjadi pintu masuk bagi distribusi tembakau luar pulau ke Madura. Selain regulasi seputar perdagangan tembakau yang belum jelas, hal tersebut terjadi karena semangat industrialisasi global yang tak terbendung.

Jembatan Suramadu, dalam kaitan itu, menjadi jalur utama lalu lintas industri keluar masuk Madura. Upaya pembatasan atau penghalangan akan kontraproduktif dan tidak selaras dengan spirit globalisasi. Yang paling mungkin dilakukan adalah terus mencari inovasi agar kualitas produk asli Madura tak kalah dan mampu bersaing dengan komoditas sejenis dari luar.Sejumlah komoditas agrikultur Madura diketahui layak jual di pasar nasional, bahkan internasional. Pada jenis tanaman pangan, Madura dikenal sebagai pemasok jagung yang unggul. Daerah itu tidak kalah dengan Provinsi Gorontalo yang menjadi lumbung jagung berkualitas.Bahkan, Madura merupakan pemasok 30,2 persen stok jagung nasional. Beberapa jenis palawija, seperti kedelai, kacang hijau, bahkan bawang merah, juga cocok dengan kondisi beberapa wilayah di Madura.Itu belum termasuk potensi hortikultura. Di sebagian besar pesisir Madura, ditemukan tanaman jambu mete. Camplong di Sampang kondang dengan buah jambu air yang khas. Bangkalan terkenal dengan salak yang spesial.Selain itu, hampir semua tanah di Madura cocok ditanami cabai jamu. Kendati cabai jenis tersebut sudah dibudidayakan di daerah lain, cabai jamu Ma­dura dikenal khas, berbeda dengan varietas sejenis dari daerah lain. Riset tim penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) membuktikan keunikan cabai jamu Madura tersebut. Tinggal meng­upayakan pengembangan dan pembudidayaan secara intensif.

Sebagian wilayah Sumenep dan Pamekasan, selain populer dengan tembakau, menyimpan potensi agraria yang tak kalah prospektif. Buah srikaya, misalnya, melimpah di dua kabupaten itu. Namun, produk tersebut selama ini hanya di­nikmati sebagai makanan segar. Belum ada upaya penanganan pascapanen yang mampu menjadikannya komoditas yang bisa dinikmati tidak hanya pada masa panen.Padahal, industri pertanian modern sudah bergerak menuju pengemasan dan pengolahan yang awet. Bentuknya adalah produksi makanan olahan dan minuman kemasan yang didukung dengan teknologi. Menghadapi pasar global, sudah saatnya produk pertanian Madura dipasarkan ke luar wilayah dan mancanegara. Untuk itu, pola penanaman, perawatan, pengolahan, dan pengemasan pascapanen, juga pemasaran produk yang andal, mutlak diperlukan.

Dengan begitu, agroindustri bisa menjadi salah satu stimulus sosial bagi penyerapan tenaga kerja pertanian, buruh tani, pemilik lahan, penanam modal, hingga pelaku industri pertanian di Madura. Beberapa Negara, seperti Jepang, Tiongkok, India, dan Belgia, siap menanamkan investasi di bidang itu. Apalagi, areal tanam pertanian di Pulau Garam masih luas, sekitar 70.000 kilometer persegi. Peluang untuk mengembangkan usaha pertanian masih terbentang. Amat disayangkan bila areal tanam tersebut tidak diikuti upaya dan terobosan yang mampu menghasilkan industri produktif.Sudah selayaknya pelaku agroindustri Madura belajar pada keberhasilan dunia luar, terutama soal pemasaran produk berkualitas. Upaya Selandia Baru menjadikan kiwi sebagai produk khasnya bisa dijadikan inspirasi.

9 thoughts on “Perkembangan Agroindustri di Madura PascaSuramadu

  1. semuga itu di dukung semua lapisan masyarakat di indonesia
    karena penduduk di pulau madura ke banyakan pertanianya tidak jellas dan tidak terbimbing oleh pemerintah…dari itu ke banyakan penduduknya harus mandiri dan terpaksa merantau ke negara tetangga….saya harap pemerintah dapa melihat ke bawah

    • Memang betul sekali, dan ternyata pemerintah indonesia ini hanyab berdalih pro rakyat, tp kenyataanya mereka hanya untuk kepentingan sesaat demi lancarnya jalan kepeminpinan mereka. sulit emang untuk merubah hal itu, bahkan di dunia pendidikan sekalipun sering terjadi praktek praktek mafia anggaran dengan dalih pro rakyat ini.

      so pertanayaanya sekarang

      akankah pemuda sebagai kader bangsa ini bisa menjadi pemimpin yang baik…?

  2. To follow up on the update of this theme on your web page and would want to let you know just how much I liked the time you took to write this beneficial post. Within the post, you really spoke on how to definitely handle this concern with all convenience. It would be my pleasure to build up some more ideas from your web-site and come as much as offer some others what I learned from you. Many thanks for your usual wonderful effort.

Comments are closed.